Archive for category Profil Pengelola Blog

Ujian cna di tengah dinginnya malam

huh…… melehlahkan…. batin dan jiwa….. sial?? ya kata sial memang pantas untuku ,.,.,..

malam minggu yg seharusnya menyenangkan …eh mala terbalik, kami tiba tiba di jadwalkan ujian final exam ccna uhhh….. kebetulan atau disengaja..aq dapaet giliran yg ketiga, tepatnya sesion ke 3 ,, y

Iklan

Tinggalkan komentar

Lafal Allah pada Sebuah Telur

Lafal Allah pada Sebuah Telur

Lafal Allah pada Sebuah Telur

Sebuah telur ayam milik Hesti,

warga Tanjungwangi, Tanah Merah, Penjaringan, Jakarta Utara, terdapat lafal Allah. Hesti tidak akan menjual telurnya itu.

Hesti (18 th) memegang telur berhias lafal Allah, Senin (14/5). Telur seharga Rp 700 itu diperolehnya dari warung tetangganya.

Telur dengan lafal Allah. Semula Hesti akan merebus atau menggoreng telur itu. Namun, karena ada lafal Allah, Hesti pun menyimpan telur itu di almari pakaian.

1 Komentar

Ayam dan Telur

Ayam dan Telur

Menarik postingan dari Norman disini. Ilmu pengetahuan dan agama ? Menarik. Menarik.

Komentar aah…. 🙂

Begini sodara-sodara, ilmu pengetahuan itu seperti belokan, seperti huruf-U. Sedangkan ilmu Tuhan itu tidak demikian. Gw gak setuju AYAM tercipta lebih dahulu dari telur. Surprise ! Let me explain.

Jika melihat dari faktor ketuhanan, maka ada yang namanya faktor ‘penciptaan’. Dan konsepnya jelas … SEKEJAP. Ayam adalah obyek yang UTUH dan sempurna untuk melakukan apa yang telah digariskan-Nya. Jadi, dilihat dari konsep ketuhanan, adalah (mungkin) BENAR ayam tercipta terlebih dahulu dari telur. Ingat, ini faktor ‘penciptaan’, dan bukan faktor ‘proses’.  But, ini adalah premis awal. Apakah ini benar ? Kita lanjutkan analisis berikutnya. Saya akan menggunakan pendekatan Quran.

Pemahaman kita tentang apa yang disebut dengan “sebab” dan “akibat” perlu disamakan terlebih dahulu. Begini, dalam penciptaan sesuatu, ada tiga hal yang saling berkaitan erat dan tak dapat dipisahkan: [1] subyek penciptaan [2] perbuatan mencipta [3] obyek penciptaan (yang terbagi lagi menjadi dua: obyek-sebelum-penciptaan dan obyek-setelah-penciptaan). Ada kondisi ketakberhinggaan yang tidak mustahil. Ketakberhinggaan yang tidak mustahil itu adalah ketakberhinggaan pada perbuatan mencipta dan pada obyek penciptaan. Kita bisa mengatakan: sebelum Tuhan menciptakan obyek 1, Ia menciptakan obyek 0. Dan sebelum Ia menciptakan obyek 0, Ia menciptakan obyek -1. Dan seterusnya hingga tak berhingga di masa lalu. Atau dengan ungkapan lain: Tuhan menciptakan obyek 1 dari bahan obyek 0. Dan Ia menciptakan obyek 0 dari bahan obyek -1. Dan seterusnya. Di sini, saya menyebut -1 sebagai “sebab materil” untuk obyek 0. Dan 0 sebagai “sebab materil” untuk obyek 1. Dengan demikian, obyek 1 tidak akan ada kalau tidak ada obyek 0. Obyek 0 tidak akan ada kalau tidak ada obyek -1. Demikian seterusnya. Setujukah dengan analisis saya ?

Banyak kitab-kitab suci di dunia mengatakan faktor ‘penciptaan sekejap’ tanpa melibatkan adanya pengetahuan ‘proses’ di dalamnya. Tapi, menarik sekali apa yang Quran katakan :

…Maha Suci Dia. Apabila Dia telah menetapkan sesuatu, maka Dia hanya berkata kepadanya: “Jadilah”, maka jadilah ia. (Qur’an surat Maryam ayat 35)

Ayat tersebut berbicara mengenai konsep penciptaan sekejap, langsung terjadi. Sama seperti kitab suci lainnya. Mungkin Anda bertanya, dimana bedanya ? Dimana sisi ‘proses’-nya ? Karena ayat itu masih global, maka kita perlu mengambil ayat yang mengacu pada konsep penciptaan. Ada banyak ayat dalam Quran yang mengacu pada konsep penciptaan, saya ambil salah satunya :

“Dan  sesungguhnya  Kami  TELAH menciptakan manusia dari suatu saripati  (berasal)  dari  tanah.  Kemudian Kami jadikan saripati itu air mani (yang  disimpan)  dalam  tempat  yang  kokoh  (rahim). Kemudian air mani itu Kami  jadikan  segumpal  darah,  lalu  segumpal  darah itu Kami jadikan segumpal  daging,  dan  segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang lalu tulang  belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian kami jadikan dia makhluk  yang (berbentuk) lain. Maka Maha Sucilah Allah, Pencipta Yang Paling Baik.  ” (QS al-Mukminun : 12-14)

Jadi, ketika surat Maryam ayat 35 berbicara mengenai proses ‘penciptaan’ tanpa syarat, maka ayat yang menjelaskan bagaimana suatu obyek itu tercipta memberikan gambaran kepada kita bahwa sesuatu obyek baru utuh apabila ada faktor proses sebelumnya. Kata “TELAH” memberi arti bahwa sebelumnya ada proses yang mendahului akibat. Ingat teori kausalitas yang saya jelaskan di atas. Kita bisa lihat juga pada ayat lain yang membahas mengenai penciptaan langit dan bumi misalnya. Selain dikatakan bahwa Allah menciptakan langit, juga dijelaskan bahwa sebelum penciptaan ternyata ada proses terlebih dahulu. Jadi, obyek ‘sesuatu’ (let saya ‘ayam’) adalah sesuatu wujud sempurna utuh yang ‘diciptakan’ melalui suatu ‘proses sebelumnya’. Manusia tidak akan bisa mencapai kondisi seperti itu. Maka dari itu hal penciptaan sekejap dari kondisi proses sekejap yang dimiliki Tuhan tidak akan bisa dijangkau manusia dan akal sehat. Kita menyebutnya sebagai ‘keajaiban penciptaan’. Bagaimana mungkin Tuhan menciptakan ‘ayam’ sekejap melalui proses sebelumnya yang jauh lebih sekejap ? Rasio tidak akan menangkap, hingga menjadi sebuah ‘keajaiban penciptaan’. Tapi, yang jelas adalah bahwa dari contoh ayat dan apa yang saya jelaskan tersebut, ‘AYAM’ sebagai obyek utuh ternyata tercipta SETELAH ADANYA proses sebelumnya. Bisa saja proses sebelumnya itu … ‘telur’ (saya gunakan tanda kutip karena bisa saja bukan). So, i definitely agree bahwa ‘telur’ tercipta lebih dahulu dari ‘ayam’ pada konsep Islam. Apakah proses sebelumnya adalah ‘telur’ ataukah ‘bukan telur’ ? Wallahualam, Hanya Allah yang tahu. Hanya karena ADA proses sebelumnya yang terjadi, maka ‘ayam’ tidak bisa dikatakan ada lebih dahulu. Yang ada lebih dahulu adalah ‘proses’ sebelum ayam yang mungkin saja ‘telur’.

Mungkin pertanyaannya, bagaimana dengan telur yang tidak dibuahi dan tidak sempat menjadi ayam ? Ok, jawabannya ada pada ayat berikut :

“Hai manusia, jika kamu dalam keraguan tentang kebangkitan (dari kubur), maka (ketahuilah) sesungguhnya Kami telah menjadikan kamu dari tanah, kemudian dari setetes mani, kemudian dari segumpal darah, kemudian dari segumpal daging yang sempurna kejadiannya dan yang tidak sempurna, agar Kami jelaskan kepada kamu dan Kami tetapkan dalam rahim, apa yang Kami kehendaki sampai waktu yang sudah ditentukan, kemudian Kami keluarkan kamu sebagai bayi, kemudian (dengan berangsur-angsur) kamu sampailah kepada kedewasaan, dan di antara kamu ada yang diwafatkan dan (ada ***) di antara kamu yang dipanjangkan umurnya sampai pikun, supaya dia tidak mengetahui lagi sesuatupun yang dahulunya telah diketahuinya. Dan kamu lihat bumi ini kering, kemudian apabila telah Kami turunkan air di atasnya, hiduplah bumi itu dan suburlah dan menumbuhkan berbagai macam tumbuh-tumbuhan yang indah.” (QS Al-Hajj: 5)

See, jadi memang ada kondisi dimana terjadi kejadian yang ‘sempurna’ dan ‘tidak sempurna’. What for ? Semua itu untuk menjadi pelajaran bagi manusia. Contoh lain, langit diciptakan dengan retakan. What for ? Bukan untuk menunjukkan kekurangan-Nya, tetapi sebagai pelajaran bagi manusia. Contoh lain lagi, lautan yang airnya tidak bercampur. What for ? Yakni sebagai pelajaran bagi manusia. Jadi kondisi ‘telur’ yang tidak menjadi ‘ayam’, adalah hal yang lumrah dalam science dan hal yang juga telah Quran singgung.. Karena meskipun Quran menginformasikan kemampuan Tuhan untuk ‘menciptakan’, akan tetapi dijelaskan juga bahwa ada ‘proses penciptaan’. Artinya, ada ‘sesuatu yang mendahului’ sebelum suatu akibat atau suatu obyek itu terbentuk.

Jika melihat dari faktor science, maka konsepnya adalah … proses. Pertama kali kita harus sepakat bahwa seekor anak ayam tidak mungkin muncul dari ketiadaan. Tidak mungkin ada ayam jika tidak di dahului oleh telur. Sebab telurlah cikal bakal terjadinya ayam. Tanpa telur, mustahil terjadi ayam. Ingat, dalam science konsep ‘keajaiban’ menjadi absurd karena akan berbenturan dengan logic. Jadi, dalam science, Anda harus sepakat bahwa seekor anak ayam tidak mungkin muncul dari ketiadaan. Artinya, setelah ayam pertama kali tercipta oleh-Nya (sesuatu yang un-touchable oleh science), barulah semua proses terfokus pada ‘bagaimana bisa terjadi ayam ?’. Lalu keluarlah konsep ‘telur’. Sebab dari ‘telur’ inilah akan terbentuk obyek ‘ayam’ yang sempurna atau tidak sempurna kejadiannya. Tak ada science yang bisa mengarah ke konsep ‘penciptaan sekejap’ dari ‘proses sekejap’ seperti yang dilakukan Tuhan Yang Maha Kuasa. Jadi, dari faktor science, telur terjadi lebih dahulu dari ayam.

Hanya karena Biologi mengatakan bahwa organisme berasal dari sel tunggal lalu kemudian berkembangbiak hingga menjadi kompleks tidak menjamin bahwa ‘ayam’ adalah yang lebih dahulu. Let say bahwa sesuatu yang ‘hidup’ kita katakan sebagai ‘organisme’, baik yang tunggal maupun yang kompleks. Lalu apakah ‘telur’ juga bukan organisme ? Apakah sesuatu yang ‘hidup’ hanyalah sesuatu yang kompleks seperti manusia ? Apakah pohon tidak hidup ? Apakah embrio manusia tidak ‘hidup’ ? No. Semua ‘hidup’ dengan tingkat ‘kehidupan’ yang telah disesuaikan. ‘Telur’ juga makhluk hidup. Jika tidak hidup, tidak mungkin bisa menjadi ‘ayam’. Saya kutip dari ScienceDaily :

“The process of egg maturation is critical for reproduction,” said Robb Krumlauf, Ph.D., Scientific Director. “Any mistake in this process can lead to infertility or developmental abnormalities. The Li lab’s findings open the door to a better understanding of the molecular basis of cell division during egg maturation in mammalian organisms.”

See, jadi ‘ayam’ memang terbentuk dari ‘suatu proses’ yang bisa kita katakan ‘telur’. So, ‘telur’ ada lebih dahulu dari ‘ayam’.

Tapi kalau ditanya jawaban nyantainya sih antara ayam dan telur itu duluan ayam, sedangkan antara telur dan ayam itu duluan telur…

😀

Tinggalkan komentar

Tips Menghadapi Tes Potensi Akademik

Sesudah tidak berhasil – rasanya sih; perasaan tidak berdaya itu bener-bener nggak enak ya – menghadapi Tes Potensi Akademik (TPA) hari Kamis (28/02) lalu, gw beranikan diri untuk menyusun beberapa tips untuk menghadapinya. Paling nggak buat nanti kalo ngadepin tes ini lagi, gw bisa baca sendiri daftar ini.
Soal-soal TPA tidak dirancang untuk dijawab semuanya. Kita ambil soal matematika dasarnya sebagai contoh. 90 soal, 60 menit. Berarti 1 soal 40 detik. Orang jenius macam apa yang bisa ngerjain setiap soal dalam 40 detik? Baca soalnya aja udah 20 detik sendiri. Jadi, strateginya adalah dalam 20 detik membaca soal itu kita sudah tentukan, soal ini gampang atau tidak. Kalo susah, ya tinggal aja, kerjain yang lain. TPA itu soalnya 250 biji, jadi jangan kuatir kehabisan soal.
Kerjakan soal yang mudah terlebih dahulu. Ini mungkin trik kuno, tapi beneran harus dipraktekkan. Biasanya yang di depan-depan itu lebih susah dan lebih makan waktu, jadi coba mulai dari bagian belakang.
Beli buku-buku TPA ,tapi untuk bisa membayangkan soal TPA yang sesungguhnya, kalikan kesulitannya tiga kali. OTO Bappenas memang nggak kira-kira bikin soalnya.
Untuk menaklukkan soal-soal bahasa Indonesia, sering-sering baca kolom-kolom di koran. You know, those on the editorial pages. Soal-soal bacaan/wacananya kebanyakan diambil dari sana. Kalo nemu kata-kata yang aneh, segera konsultasikan dengan kamus Bahasa Indonesia.
Coba ingat beberapa istilah kunci di bidang statistik. Ini keluar di beberapa nomor pertanyaan Bahasa Indonesia. Misalnya: variansi, simpangan baku, dan semacamnya.
Sisakan waktu untuk “nembak”. Jelas. Lihat butir nomor satu. Nggak ada nilai minus kok.

2 Komentar